Hua kebetulan kemaren baca2 tulisan lama, dan menemukan curhatan kecil ini yang belum sempet gw posting. Please, check this out.
----------------------------------------------------------------------------------
Kesel mode: ON
Pagi hari yang tidak indah hampir selalu diawali dengan mengantri lift di kantor. Tepat seperti apa yang gw lakukan hari ini. Jam menunjukkan pukul 08.20 pagi, hanya 10 menit lebih cepat dari jam masuk yang seharusnya tapi entah mengapa tidak begitu banyak orang mengantri lift pagi ini seperti hari hari biasanya. Berdiri disamping gw kurir tiki, dhl, or something like that lah dengan tas besarnya yang berisi dokumen2 penting yang harus dia distribute. FYI, gw awalnya tidak begitu memperhatikan dia, sampai kemudian dateng seorang satpam yang melakukan hal yang rude banget.
Satpam: "Mas, maaf lift barang di sebelah sana"
Kurir: "Tapi saya kan ngga bawa barang banyak Pak"
Satpam: "Iya, tapi lift ini khusus pegawai dan tamu Pak"
Kurir: "Tapi kan.."
Satpam: "Nanti takutnya mengganggu yang lain Mas, itu lift barangnya disitu, ngga jauh ko"
Kurir: "Argh.."
Kalau saja gw bukan orang baru disitu, pasti udah akan gw omel2in tuh satpam, dia sekolah ngga si? sampe ngga bisa mengerti bahasa indonesia. Menurut terminologi bahasa indonesia yang baik dan benar, jika dua kata benda disatukan maka kata tersebut akan membentuk pola DM (Diterangkan Menerangkan), artinya kata kedua selalu akan berfungsi untuk menerangkan kata yang pertama.
Contoh:
- Rumah Sakit artinya rumah untuk orang yang sakit
- Rumah Makan artinya rumah untuk orang yang mau makan
- demikian juga dengan Lift Barang artinya lift untuk barang atau orang yang membawa barang
Dan secara logika gw yang sederhana, ada beberapa alasan kenapa lift barang perlu dipisahkan dari lift umum.
- Lift barang biasanya dibuat sangat besar, sehingga bisa menampung banyak barang dalam berbagai ukuran dalam sekali angkut, misal ngangkat2 perabot
- Sangat dimungkinkan orang butuh berkali2 naik turun untuk mengangkat barang yang banyak ke suatu tujuan (saking banyak nya barang tersebut), misal nganter katering
- Barang terkadang kondisinya "tidak bersih", misal membawa alat2 pembersih ruangan seperti pel2an dsb.
Dalam kondisi tersebut memang akan sangat mengganggu sekali jika mobilitas mereka digabungkan dengan pemakai lift umum. Tapi ini petugas DHL getuh, tidak membawa barang yang banyak memakan ruang, tidak pula mengganggu penumpang lift lainnya. Tapi kenapa dia tidak boleh naik lift umum??
Apakah karena dia bukan pegawai atau tamu? apa bedanya dia dengan pegawai dan tamu? Hmm, malah sebenernya dia itu adalah tamu, karena (lagi2) menurut terminologi bahasa indonesia yang baik dan benar, tamu adalah orang asing yang berkunjung ke kediaman kita. So dalam hal ini, apapun dia selama orang itu bukan orang yang bekerja di gedung itu, maka dia pantas disebut sebagai tamu, dan dia berhak untuk mendapatkan perlakukan seperti tamu, tidak terkecuali untuk si kurir tersebut.
Tapi kejadian lebih menyakitkan ternyata terjadi di tempat yang lain, di sebuah kantor di bilangan Meruya.
Jam pagi itu menunjukkan pukul 09.10. Sepuluh menit sudah gw telat untuk memulai tes gw di kantor tersebut. Tergopoh2 gw berlari mencoba mengejar keterlambatan gw ditemani oleh seorang asisten rumah tangga nyokap gw yang setia, Inah namanya. Sampai di lobi, biasa lah, ada prosedur "tamu wajib lapor 1x24 jam" ke meja receptionist untuk menukarkan KTP gw dengan kartu "visitor".
Receptionist: "Pagi Mba, ada yang bisa saya bantu?"
Gw: "Saya mau ke lantai X Mba"
Receptionist: "Oh, mau tes ya Mba?"
Gw: "Iya, can you be little bit faster Mba, saya sudah telat ini"
Receptionist: "Ok, ini kartu visitornya Mba"
(dia cuma memberi 1 kartu visitor)
Gw: "Yuk, Nah.."
Receptionist: "Maaf mba, kalau ngga ada kepentingan dia ngga boleh naik ke atas"
(sambil menunjuk Inah)
Gw: "Loh tapi kan dia bersama saya"
Recptionist: "Iya, tapi begitu peraturannya"
(Ooh mungkin di atas ngga ada lobinya kali ya, atau ngga ada ruang tamu jadi ngga ada tempat duduk, pikir gw dalam hati)
Gw: "Ya sudah Nah, kamu tunggu disini aja ya.. duduk disitu aja, aku paling lama 3 jam"
(Sambil menunjuk salah satu tempat duduk di lobi)
Receptionist: "Maaf mba, tapi dia tidak boleh duduk disitu, kalau mau dia bisa duduk di tempat tunggu supir di luar"
Gw: "Maksud mba apa si? kenapa dia ngga boleh duduk disitu, itu kan bangkunya kosong"
Inah: "Udah Mba, ngga papa"
Receptionist: "Iya tapi itu buat tamu yang nunggu mobil Mba"
Gw: "Oh ya? saya baru denger, sejak kapan ada orang yang ngga boleh duduk di lobi"
Inah (dengan muka melas dan hampir mau nangis): "Udah Mba, naik cepet udah telat 1/2 jam Mba"
Gw: "Ngga bisa gitu Nah"
Inah (semakin memelas): "Udah Mba, saya malu"
Gw: "Ya sudah Nah, terserah kamu mau duduk dimana, disitu juga gpp, aku naik dulu ke atas"
Rasanya pengen gw membatalkan tes saat itu juga dan pulang bersama Inah, ngga enak rasanya kalau nantinya harus bekerja ke perusahaan yang tidak bisa menghargai orang, tapi rasanya ngga fair juga karena biasanya pengelola gedung memang tidak mempunyai korelasi dengan tenant yang ada di dalamnya.
Kalau saja si recptionist tau betapa berarti nya Inah buat gw, tidak sepantasnya dia berbuat gitu sama INah. Inah, the one yang membangunkan gw pagi itu, yang membuatkan gw sarapan dan membungkusnya karena tau gw pasti terburu-buru, yang menemani gw jam 6 pagi ke UKI, yang memberikan gw kekuatan untuk berani menusuri daerah meruya yang gw ngga kenal sama sekali dengan menggunakan angkutan umum, yang menemani gw tersasar ke bebrapa tempat, dan yang menemani gw berjalan sekitar 1km di tengan hujan semi lebat, di hari itu, demi perjuangan mencari kerja. Dan lihatlah perlakuan apa yang dia dapat dari si orang ngga penting, yang menyebut dirinya receptionist. And FYI, akhirnya pun gw menolak kerjaan itu setelah diterima, walaupun dengan alasan yang lain.
Aghhh tidak tahu kah kau kawan, dunia akan lebih indah jika tidak ada kasta, walaupun itu dalam makna yang tersirat. Aku tahu kawan, mungkin kau pun terpaksa berbuat seperti itu karena itu peraturan perusahaan, tapi tidak kah kau punya hati nurani? Menyakiti hati sesama saudara, begitukah caramu diajarkan bersikap oleh perusahaan?
Kepada pada pemilik gedung, kepada para management gedung, ini kah hasil didikan kalian? Tidak malu kah kalian melihat kelakuan anak didik kalian?
Notes: Gedung dalam cerita 1 adalah gedung MITRA, gatsu 14. Gedung dalam cerita 2 adalah gedung Kawan Lama, Meruya, Kebun Jeruk.
Recent Comments